| |
Kepala Negara dalam acara ramah tamah dan buka puasa dengan wartawan yang meliput kegiatan kepresidenan di Istana Negara Jakarta, Kamis (16/9) malam, mengatakan, keberhasilan Polri dalam melumpuhkan Noordin merupakan peristiwa yang cukup penting dalam penanganan teroris di dalam negeri. “Kepolisian dan Detasemen Khusus (Densus) 88 telah berhasil melumpuhkan pimpinan, arsitek, dan perekrut pengebom bunuh diri, Noordin M Top, dan sejumlah teroris lainnya,” kata Presiden. Kepala Negara menjelaskan, hal tersebut merupakan prestasi yang baik karena Noordin M Top, bersama Azhari yang tewas beberapa waktu lalu, selama delapan hingga sembilan tahun terakhir telah memimpin aksi teror di dalam negeri, yang telah merenggut korban jiwa dan kerugian materi yang tidak sedikit. “Ini hasil yang penting, saya telah ucapkan selamat dan terima kasih,” ujarnya. Meski demikian, Presiden Yudhoyono berkeyakinan, meski Noordin M Top telah berhasil dilumpuhkan, bukan berarti sel-sel teroris di Asia Tenggara dan Indonesia lumpuh. “Karena itu, perlu dilakukan penegakan hukum optimal dan terus dilakukan pengejaran terhadap teroris yang masih belum tertangkap,” katanya. Dalam kesempatan konferensi pers, kemarin, Kapolri juga mengatakan, perburuan terhadap tersangka teroris belumlah tuntas. Sebab, masih ada beberapa nama yang harus ditangkap dan sudah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO). Dua nama yang diburu memiliki peran penting dan juga merupakan pejabat strategis di Al Qaeda wilayah Tenggara, yakni Muhammad Syahrir (mantan teknisi di Garuda) serta Syaifuddin Zuhri. Pernyataan SBy dikuatkan sebuah sumber di kepolisian. “Pekerjaan memburu jaringan teror yang dibentuk Noordin masih belum selesai. Masih banyak orang-orang dengan kemampuan di atas Noordin yang masih menjadi ancaman,” kata sumber tersebut. Nama yang kini mendapat tempat teratas adalah Syaifudin Zuhri, ustadz yang mengajak Dani Dwi Permana menjadi pengantin bom bunuh diri di Hotel Marriott dan Ritz-Carlton, 15 Agustus lalu. Kemampuan persuasif Syaifuddin disebut-sebut setara dengan Noordin. “Tampaknya, kini dia (Syaifuddin-red) yang menjadi orang yang paling berbahaya,” tandasnya. Menurut salah seorang mantan anggota Jamaah Islamiyah senior yang tak mau disebut namanya, yang paling penting segera diputus adalah soal “penularan ideologi”. Maksudnya adalah, memutus mata rantai perekrut dan calon pelaku bom bunuh diri. Hal ini penting karena menurut pengamatannya, kondisi kaum militan di Indonesia saat ini justru sedang matang-matangnya. “Saya yakin, bila terjadi konflik seperti di Poso atau Ambon lagi, maka bahaya yang mungkin timbul tiga kali lipatnya. Jumlah yang berjihad akan semakin bertambah banyak tiga kali lipat,” tutur pria yang mengetahui betul soal kondisi kaum militan Indonesia tersebut. Dengan kata lain, banyak yang siap untuk menjadi pelaku bom bunuh diri maupun dengan suka rela mengikuti ideologi kelompok buatan Noordin. Sedangkan untuk pelatihan militer dan soal kemampuan pengeboman, bukan merupakan salah satu hal yang sulit didapat. “Soal merakit bom, siapapun yang mau belajar dan ada yang mengajar, dalam satu hari saja pasti sudah bisa membuat bom low explosive. Dalam sebulan, kemampuan merakit bomnya pasti sudah komplet, tinggal pematangan saja,” tuturnya. Sedangkan untuk peningkatan kemampuan militer, tak perlu jauh-jauh ke Afghanistan. Di Mindanao saja sudah cukup. “Masih banyak kamp pelatihan militer di sana,” urainya. Kendati sudah lama tak di Filipina, sumber tersebut yakin masih ada sejumlah orang Indonesia yang mendapat pelatihan di sana. Hal ini secara tak langsung dibenarkan oleh Kapolda Sulut Brigjen Pol Bekto Suprapto. “Kami memang memperketat pengamanan di kawasan pulau terluar antara Sangihe dan Talaud,” ucap mantan Kadensus 88 Anti Teror Mabes Polri tersebut. Selama ini jalur antara General Santos (kota paling selatan di Mindanao) dan Sangihe, masih menjadi jalur utama penyelundupan orang. Di sana, menyewa sebuah pump boat seharga Rp 6 juta saja dan berlayar selama 15 jam, maka siapa pun bisa keluar masuk tanpa terdeteksi. Indikasi ini memang bukan isapan jempol belaka. Juni lalu, Polda Sulut mengamankan 13 warga Filipina. Memang tak ada senjata atau pun bom yang dibawa. Tapi dalam sebuah flash disk-nya, ada 32 foto-foto orang-orang berlatih perang. Menurut sebuah sumber di kepolisian, wajah di dalam foto-foto tersebut masih dalam tahap identifikasi. “Siapa tahu, ada orang Indonesia-nya. Yang jelas, kami mendapat indikasi, bahwa kamp-kamp pelatihan milik kelompok militan manapun di Filipina Selatan masih menjadi jujugan kaum militan Indonesia untuk berlatih,” tutur sumber tersebut |
Jumat, 18 September 2009
Teror Belum Berakhir
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar